TUGAS TERSTRUKTUR
1. Menurut
Louis de Broglie bahwa elektron mempunyai sifat gelombang sekaligusjuga
partikel. Jelaskan keterkaitannya dengan teori mekanika kuantum dan Teori Orbital Molekul?
Jawab :
Salah satu kelemahan dari
teori atom Niels Bohr, yaitu tidak dapat menjelaskan mengapa elektron hanya
boleh berada pada tingkat energi tertentu. Pertanyaan itu baru dapat dijelaskan
setelah Louis de Broglie, seorang ahli fisika dari Perancis, mengemukakan
gagasanya tentang gelombang materi.
Pada tahun 1924, Louis de
Broglie, menjelaskan bahwa cahaya dapat berada dalam suasana tertentu yang
terdiri dari partikel-partikel, kemungkinan berbentuk partikel pada suatu waktu
sehingga untuk menghitung panjang gelombang satu partikel diperoleh:
Partikel yang bergerak
memiliki sifat gelombang. Fakta yang mendukung teori ini adalah petir dan
kilat. Pernahkan Anda mendengar bunyi petir dan melihat kilat ketika hujan
turun? Manakah yang lebih dulu terjadi, kilat atau petir?
Kilat akan lebih dulu terjadi daripada petir. Kilat
menunjukan sifat gelombang berbentuk cahaya, sedangkan petir menunjukan sifat
pertikel berbentuk suara. Hipotesis de Broglie dibuktikan oleh C. Davidson an
LH Giermer (Amerika Serikat) dan GP Thomas (Inggris). Prinsip dualitas inilah menjadi titik pangkal
berkembangnya mekanika kuantum oleh Erwin Schrodinger.
Pada tahun 1927, WERNER
HEISENBERG mengemukakan bahwa posisi atau lokasi suatu elektron dalam
atom tidak dapat ditentukan dengan pasti. Heisenberg berusaha menentukan
sifat-sifat subatomik dan variabel yang digunakan untuk menentukan sifat atom.
Sifat ini adalah kedudukan partikel (x) dan momentum (p).
Kesimpulan dari hipotesisnya
adalah bahwa pengukuran subatomik selalu terdapat ketidakpastian dan dirumuskan
sebagai hasil kali antara ketidakpastian kedudukan (Δx) dengan ketidak pastian
momentum (Δp). Kemungkinan (kebolehjadian) menemukan elektron pada suatu titik
pada jarak tertentu dari intinya disebut sebagai Prinsip Ketidakpastian
Heisenberg. Artinya gerakan lintasan elektron beserta kedudukannya
tidak dapat diketahui dengan tepat.
Hipotesis Louis de Broglie
dan azas ketidakpastian dari Heisenberg merupakan dasar dari model Mekanika
Kuantum (Gelombang) yang dikemukakan oleh ERWIN SCHRODINGER pada
tahun1927, yang mengajukan konsep orbital untuk menyatakan kedudukan 1elektron dalam atom. Orbital menyatakan suatu daerah
dimana elektron paling mungkin (peluang terbesar) untuk ditemukan.
Schrodinger sependapat
dengan Heisenberg bahwa kedudukan elektron dalam atom tidak dapat ditentukan
secara pasti, namun yang dapat ditentukan adalah kebolehjadian menemukan
elektron pada suatu titik pada jarak tertentu dari intinya. Ruangan yang
memiliki kebolehjadian terbesar ditemukannya elektron disebut Orbital.
Dalam mekanika kuantum,
model orbital atom digambarkan menyerupai “awan”. Beberapa orbital bergabung
membentuk kelompok yang disebut Subkulit. Persamaan gelombang
( Ψ= psi) dari Erwin Schrodinger menghasilkan tiga bilangan gelombang (bilangan
kuantum) untuk menyatakan kedudukan (tingkat energi, bentuk, serta orientasi)
suatu orbital, yaitu: bilangan kuantum utama (n), bilangan kuantum azimut (l)
dan bilangan kuantum magnetik (m).
Orbital molekul ikatan memiliki
energi yang
lebih rendah dan kestabilan yang lebih rendah dibandingkan orbital-orbital atom
pembentuknya.
Orbital molekul antiikatan
memiliki energi yg lebih tinggi dan kestabilan yang lebih rendah dibandingkan
orbital-orbital
atom pembentuknya.
Di dalam OM menunjukkan permukaan
dengan kerapatan elektron tetap/konstan sehingga elektron memiliki kemungkinan
untuk berada didalamnya. Sehingga sebuah elektron dalam sebuah OM seperti dalam
gambar akan berada dalam dalam daerah ikatan.
Sebuah
elektron
dalam orbital ikatan cenderung untuk
bersama dalam inti positif, sehingga mengikatnya bersama secara elektrostatik
dan meningkatkan kestabilan molekul. Meningkatnya kestabilan berhubungan dengan
rendahnya energi, sehingga energi ikatan lebih rendah dibanding energi orbital
atom awal (Gambar
b). Sebuah elektron pada antiikatan sebagian besar waktunya diluar inti.
Elektron di antiikatan cenderung
mengurangi kestabilan molekul dengan menarik inti menjauh. Sebuah elektron
antiikatan memiliki
energi lebih tinggi dibandingkan elektron pada orbital awal. Sehingga Elektron
ikatan memiliki energi lebih rendah, sedangkan orbital antiikatan memiliki
energi lebih tinggi dibandingkan orbital awal.
2.
Bila
absorpsi sinar UV oleh ikatan rangkap menghasilkan promosi elektron
ke orbital yang berenergi lebih tinggi. Transisi elektron manakah memerlukan
energi terkecil bila sikloheksena berpindah ke tingkat tereksitasi?
Jawab:
Pada transisi elektronik inti-inti atom dapat dianggap berada
pada posisi yang tepat. Hal ini dikenal dengan prinsip Franck-Condon. Disamping
itu dalam proses transisi ini tidak semua elektron ikatan terpromosikan ke
orbital antiikatan.
Berdasarkan jenis orbital tersebut maka, jenis-jenis transisi
elektronik dibedakan menjadi empat macam, yakni:
1) Transisi σ → σ*
2) Transisi π → π*
3) Transisi n → π*
4) Transisi n → σ*
Keterangan
· σ : senyawa-senyawa yang memiliki ikatan tunggal
· π : senyawa-senyawa yang memiliki ikatan rangkap
· n menyatakan orbital non-ikatan: untuk senyawa-senyawa yang
memiliki elektron bebas.
· σ* dan π* merupakan orbital yang kosong (tanpa elektron),
orbital ini akan terisi elektron ketika telah atau bila terjadi eksitasi
elektron atau perpindahan elektron atau promosi elektron dari orbital ikatan.
Energi yang diperlukan untuk menyebabkan terjadinya transisi
berbeda antara transisi satu dengan transisi yang lain. Transisi σ ke σ*
memerlukan energi paling besar, sedangkan energi terkecil diperlukan untuk
transisi dari n ke π.
Untuk memberikan gambaran dan memudahkan pemahaman tentang
jenis transisi beserta perbandingan energi yang diperlukan dapat dilihat pada
gambar berikut:
Pada gambar di atas transisi dari σ ke π* sebenarnya tidak
ada. Transisi demikian dapat pula terjadi tapi sangat kecil sehingga tidak
dapat diamati pada spektrum atau spektra. Karena bertolak belakang dengan
kaidah seleksi.
Pada setiap jenis transisi elektronik yang terjadi, terdapat
karakter dan melibatkan energi yang berbeda. Suatu kromofor dengan pasangan
elektron bebas (n) dapat menjalani transisi dari orbital non-ikatan (n) ke
orbital anti-ikatan, baik pada obital sigma bintang (α*) maupun phi
bintang(π*). Sedangkan, kromofor dengan elektron ikatan rangkap (menghuni
orbital phi) akan menjalani transisi dari orbital π ke orbital π*. Demikian
seterusnya untuk jenis transisi yang lain.
Dalam penentuan struktur molekul, tansisi σ → σ* tidak begitu
penting karena puncak absorbsi berada pada daerah ultraviolet vakum yang
berarti tidak terukur oleh peralatan atau instrumen pada umumnya.
Walaupun
transisi π→π* pada ikatan ganda terisolasi mempunyai puncak absorbsi di daerah
UV vakum tetapi transisi π→π* tergantung pada konjugasi ikatan ganda dengan
suatu gugus fungsi substituen. Akibatnya transisi π→π* pada
ikatan ganda terkonjugasi mempunyai puncak absorbsi pada daerah ultraviolet
dekat, dengan panjang gelombang lebih besar dari 200 nm. Dengan demikian sistem konjugasi bertambah panjang maka energi
yang diperlukan untuk transisi π→π* semakin kecil, sehingga puncak absorbsi
akan terjadi pada panjang gelombang yang semakin besar. Anaslisis
menggunakan spektrofotometer UV, senyawa-senyawa dengan kromofor yang sama,
misalnya sama-sama ada ikatan rangkap atau ada elektron bebas, maka akan
memberikan spektrum yang sama atau hampir sama walaupun strkturnya molekulnya
berbeda.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar